Santapan ala Balikpapan
Monday, August 28th, 2006"Balikpapan tuh hutan semua yah?"
"Tetangga2 lo orang Dayak yah ?"
"Kalo keluar rumah naik rakit atau sampan?"
Itulah beberapa komentar kurjar (kurang ajar,red) dari org2 yg nilai
geografinya jelek. Kecil2 gitu Balikpapan -dari sini saya singkat Blpp aja- juga ada mall, ada Pizza Hut dan ada BreadLife (baru!). Tgl 18-21 Aug’06 saya long weekend di blpp.
Gak bisa kasi oleh2 buat sobat Initalers kecuali artikel food
reference. Sorry guys, gaji saya habis buat beli tiket
Kali ini
tidak 1 tempat tapi 2 sekaligus. Eit..eit.. tahan dulu liur kamu…
First place, pujasera Pacifica di Plaza Balikpapan.
Bertempat di lantai dasar plaza mini tersebut, Pacifica menjual macam2
masakan khas blpp. Sebenarnya gak ada yg namanya masakan khas blpp,
karena 90% penghuninya adalah suku bangsa pendatang. Semua jenis
masakan bisa dicari dgn mudah. Tapi lidah saya ingin sekali
ber-nostal-gila dgn Bakso SMU 1. Aslinya penjual panganan pentol ini
bertempat di jalan Kapt Pierre Tandean (Gunung Pasir) bersanding dgn
gedung sekolah SMUN 1 Blpp (almamater saya tercinta). Jadilah namanya
Bakso SMU 1. Walaopun berembel2 ’smu’, namun harganya tidak terjangkau
oleh saku siswa smu. Apalagi bila membelinya di pujasera !
Semangkuk Bakso SMU 1 dibandrol Rp 12.000. Mahal, tapi demi
memuaskan rasa kangen gpp deh. Datang dgn 4 sekawan pentol yg ‘daging
banget’ ditemani gorengan yg crunchy. Bakso SMU 1 cuma bikin 1 ukuran
bakso, tp cukup besar dan mampu menentramkan perut. Kaldunya pun sangat
lezat, persis dgn yg saya makan 5 tahun yg lalu (atau jgn2 bakso ini
bikinan 5 tahun lalu ? haha..) Bakso yg anget2 pas banget ditemani dgn Es Kelapa Susu seharga Rp 6.000. Sedikit tertipu ternyata isinya nata de coco, tapi isinya banyak banget. Puas..


Tentang pujasera Pacifica sendiri, karena minimnya tempat makan di dalam plaza maka tempat ini jadi serbuan utama. Efeknya, rame & pelayanan menjadi lambat.
Yg saya tidak suka adalah ketika waiter menagih bon terlebih dahulu
sebelum bakso dihidangkan di meja saya. Sembari makan, pengunjung
dihibur oleh home band yg kala itu tampil apik menyajikan tembang2 yg
lagu IN saat ini seperti lagu2 dari Nidji.


Secara interior, standar pujasera -nothing special. Kalo sobat2
punya kesabaran menunggu, gak ada salahnya makan disini. Selain bakso
juga ada sajian Chinese, Japanese, Westren dan Indonesian food -komplit.
Skor untuk Pacifica :
Food ~ 7.5/10
Decor ~ 7/10
Service ~ 6/10
Kenyang makan bakso dan capek keliling plaza, next destination is
Bandar Balikpapan. Tempat ini tadinya adalah lahan kosong bekas
kebakaran besar yg terjadi belasan tahun lalu. Kini disulap menjadi
ruko & cafe2. Kafe yg terkenal disini adalah Ocean’s, Dapèèn & de Kafe.
Yg disebut terakhir letaknya dibagian depan ruko, dekat dgn jalan raya.
Sedangkan Ocean’s dan Dapèèn terletak di belakang dan mengandalkan
beach view.


Saya dkk (Sani, Kapiesz, Lady & Erick) memilih untuk nongkrong di Ocean’s. Kafe ini memiliki ruangan indoor & outdoor.
tapi bagi sobat yg jauh2 ke blpp, saya reccomend untuk nyoba yg outdoor
saja untuk merasakan sensasi deburan ombak Selat Makassar.


Ruang outdoor terdiri dari beberapa gazebo yg didesain cukup
apik dengan view menhadap ke pantai. Karena air laut tengah pasang,
maka pihak kafe memasang terpal plastik transparan agar pengunjung
tidak basah terkena butiran air laut yg dibawa oleh angin pantai
(sepulang dari sini saya kena flu).


Liat2 menu yuuk ! Jangan kaget, dgn bbrp halaman awal yg bisa
membuat sobat menelan ludah. Bukan karena foto2 makanan yg menggiurkan,
tapi karena harganya yg selangit. Maklum target market kafe2 disini
memang tidak hanya membidik pasar lokal tapi juga bule2 expatriat yang
seliweran di blpp. Belakangan saya baru tau dari rekan milis Jalan
Sutera bahwa menu yg enak disini adalah sajian Kepiting.

Perut belum lapar, matahari belum terbenam. Akhirnya saya dkk hanya
memesan bbrp menu minuman yg harganya cukup terjangkau. Saya pesan
mocktail, Copacabana. Menurut info waitress, minuman ini cukup favorit disana. Terbuat dari campuran pisang, alpukat, cream rossel & sirup vanilla.
Rasanya rame banget. Pada sedotan awal mungkin akan terasa aneh &
ada butiran2 kasar yg cukup mengganggu, tapi lama2 enak juga. Dan Rp
15.000 untuk segelas jus Copacabana tidak membuat sobat bangkrut bukan
?

Temen2 gw yg lain juga memesan aneka juice & mocktail. Lady menitahkan waitress untuk membuat campuran Jus Apel & Tomat. Sani memilih Jus Semangka. Untuk aneka Jus buah tadi harganya Rp 11.000. Erick pesen Rising Sun, yaitu mocktail dgn campuran mangga, sirup markisa, orange & susu cair. Saya incip dikit, wao… asem manis. Last but not least, Kapiesz pesen Viena Ice Coffee -cold coffee top with vanilla ice cream- seharga Rp 13.500.




Penilaian akhir, kalo sobat pengen suasana kafe yg lain daripada yg lain, Ocean’s boleh dicoba. Tp jangan lupa siapkan dompet, karena kamu bakal mengurasnya dalam2 haha…
Skor untuk Ocean’s :
Drink ~ 7/10
Decor ~ 8/10
Service ~ 6/10
nb : ada 1 menu minuman yg mengingatkan saya pada salah satu penghuni MP - Shopia Kiss (ginger brown sugar, top with vanilla ice cream) hahaha … ^_^
Special Thanx : Sani, trims traktirannya om. You’re the boss



Seperti biasa , artikel ini bisa dibaca juga di 







Artikel ini juga bisa dibaca di 


